mmCPe7cpDWOWSBu9E1lDsmUPkeNcsdDIRB7lNenO
Bookmark

Perhatian

Pesan alert disini...

Mengirim Pesanan...

Jangan tutup halaman ini.

Berhasil!

Invoice ID: ...

Detail pesanan telah dikirim ke Email Anda. Silakan cek Inbox/Spam.

Checkout

1
2
3
Nama wajib diisi
Wajib awalan 08 (10-13 digit)
Wajib menggunakan @gmail.com
Produk Total Tagihan
Varian
Bayar Sekarang Rp 0
Transfer ke:
- -
Bukti transfer wajib diupload

Sejarah Adidas: Dari Ruang Cuci Sederhana hingga Ikon Global

Pada tahun 1971, Adidas memperkenalkan logo Trefoil, Adolf "Adi" Dassler,


Adidas, merek olahraga yang telah menjadi sinonim dengan inovasi dan performa, memiliki cerita awal yang sangat sederhana. 

Berawal dari sebuah ruang cuci di kota kecil Herzogenaurach, Jerman, pada era 1920-an, perusahaan ini tumbuh menjadi raksasa global yang memengaruhi dunia atletik, fashion, dan budaya pop. 

Kisahnya dimulai dengan visi seorang pria bernama Adolf "Adi" Dassler, yang didorong oleh hasrat tak tergoyahkan untuk menciptakan peralatan olahraga terbaik. 

Artikel ini akan menjelajahi perjalanan Adidas dari akarnya yang rendah hati hingga penciptaan logo Trefoil yang ikonik pada tahun 1971, sambil menyoroti inovasi, tantangan, dan warisan yang membuatnya abadi.

Awal Mula di Ruang Cuci: Fondasi Inovasi

Pada awal abad ke-20, tepatnya setelah Perang Dunia I, Jerman sedang dalam masa rekonstruksi. Di tengah kondisi ekonomi yang sulit, Adi Dassler, seorang pemuda berusia 20-an, mulai bereksperimen dengan pembuatan sepatu olahraga di ruang cuci ibunya. 

Lahir pada 3 November 1900, Adi memiliki latar belakang sebagai tukang roti dan kemudian bergabung dengan militer selama perang. 

Namun, passion sejatinya adalah olahraga. Ia melihat kebutuhan akan sepatu yang dirancang khusus untuk atlet, yang bisa meningkatkan performa mereka di lapangan.

Pada tahun 1920, Adi mulai membuat sepatu secara manual menggunakan bahan sederhana seperti kulit dan karet bekas. Ia bekerja sama dengan saudaranya, Rudolf Dassler, yang lebih berfokus pada sisi bisnis. 

Bersama-sama, mereka mendirikan Gebrüder Dassler Schuhfabrik (Pabrik Sepatu Saudara Dassler) pada tahun 1924. Perusahaan kecil ini beroperasi dari rumah keluarga mereka di Herzogenaurach, sebuah kota kecil di Bavaria. 

Obsesi Adi terhadap kualitas terlihat dari caranya mendengarkan umpan balik dari atlet. Ia sering mengunjungi acara olahraga untuk mengamati bagaimana sepatu memengaruhi gerakan dan kenyamanan pengguna.

Sukses awal datang pada Olimpiade Berlin 1936, ketika atlet Amerika Jesse Owens memenangkan empat medali emas sambil mengenakan sepatu Dassler. 

Meskipun perusahaan belum bernama Adidas, pencapaian ini membawa perhatian internasional. 

Owens, yang menghadapi diskriminasi rasial di negaranya sendiri, menjadi simbol kemenangan atas adversitas, dan sepatu Dassler menjadi bagian dari narasi itu. 

Keberhasilan ini mendorong ekspansi, dengan produksi mencapai ratusan pasang sepatu per hari menjelang Perang Dunia II.

Perpecahan dan Kelahiran Adidas: Era Pasca-Perang

Perang Dunia II menghentikan operasi perusahaan, dengan Adi dan Rudolf bergabung dengan militer Nazi. Setelah perang berakhir pada 1945, mereka kembali ke Herzogenaurach dan menghidupkan kembali bisnis. 

Namun, ketegangan pribadi antara saudara kandung itu memuncak. Pada tahun 1948, mereka memutuskan untuk berpisah. 

Rudolf mendirikan perusahaan saingan bernama Ruda (kemudian diubah menjadi Puma), sementara Adi mempertahankan pabrik asli dan mendaftarkan perusahaan barunya sebagai "Adolf Dassler adidas Sportschuhfabrik" pada 18 Agustus 1949.

Nama "Adidas" berasal dari singkatan "Adi" (julukan Adolf) dan "Das" dari Dassler. Pada tahun yang sama, Adi memperkenalkan ciri khas yang akan menjadi identitas merek: tiga garis paralel pada sisi sepatu. 

Desain ini bukan hanya estetika; garis-garis itu memberikan dukungan struktural pada kaki, mencegah cedera, dan meningkatkan stabilitas. Inovasi ini dengan cepat menjadi standar dalam industri sepatu olahraga.

Di bawah kepemimpinan Adi, Adidas berkembang pesat. Pada 1950-an, perusahaan memasok sepatu untuk tim sepak bola Jerman Barat, yang memenangkan Piala Dunia 1954 dalam apa yang dikenal sebagai "Keajaiban Bern". 

Gol kemenangan dicetak oleh pemain yang mengenakan sepatu Adidas dengan cleat yang bisa disesuaikan untuk kondisi lapangan basah. 

Ini bukan kebetulan; Adi telah merancang sepatu tersebut secara khusus. Keberhasilan ini mengukuhkan Adidas sebagai pemimpin dalam teknologi olahraga.

Inovasi dan Ekspansi: Menuju Era Modern

Selama 1960-an, Adidas terus berinovasi. Mereka memperkenalkan sepatu dengan bahan sintetis, sol yang lebih ringan, dan desain ergonomis. 

Perusahaan juga mulai mensponsori atlet individu, seperti petinju Muhammad Ali dan pelari jarak jauh Bill Rodgers. Kolaborasi ini tidak hanya meningkatkan visibilitas merek tetapi juga memberikan data berharga untuk pengembangan produk.

Ekspansi global menjadi prioritas. Adidas membuka pabrik di luar Jerman dan memasuki pasar Amerika Utara, di mana olahraga seperti basket dan lari sedang booming. 

Namun, persaingan dengan Puma dan merek baru seperti Nike mulai terasa. Adi, yang tetap aktif hingga usia tua, fokus pada kualitas daripada kuantitas. 

Ia percaya bahwa setiap produk harus membantu atlet mencapai potensi maksimal mereka.

Pada akhir 1960-an, Adidas mulai diversifikasi. Dari hanya sepatu, mereka beralih ke pakaian olahraga dan aksesori. Langkah ini membutuhkan identitas visual baru yang bisa mencakup lebih dari sekadar performa atletik. Di sinilah visi untuk logo baru mulai terbentuk.

Kelahiran Logo Trefoil: Simbol Abadi

Pada tahun 1971, Adidas memperkenalkan logo Trefoil, yang dirancang untuk menandai transisi perusahaan ke gaya hidup yang lebih luas. 

Logo ini terinspirasi dari bentuk tiga daun (trefoil), yang melambangkan keragaman benua: Eropa, Amerika, dan Asia. Desain sederhana ini menggabungkan tiga daun yang saling terkait dengan tiga garis ikonik di bagian bawah, mewakili fungsi, keaslian, dan desain timeless.

Logo Trefoil pertama kali diluncurkan pada tahun 1972, tepat waktu untuk Olimpiade Musim Panas di Munich. Acara itu menjadi panggung sempurna, dengan atlet dari seluruh dunia mengenakan produk Adidas. 

Trefoil bukan hanya logo; ia menjadi simbol budaya. Pada era itu, olahraga mulai menyatu dengan fashion dan musik, dan Adidas berada di garis depan perubahan ini.

Menurut catatan sejarah, desain Trefoil dipilih dari lebih dari 100 proposal, dengan kontribusi dari desainer seperti Hans Fick. 

Namun, visi Adi Dassler tetap menjadi inti. Logo ini awalnya mewakili performa, tetapi seiring waktu, ia menjadi identitas untuk lini Adidas Originals, yang fokus pada gaya retro dan streetwear.

Warisan dan Pengaruh Saat Ini

Adi Dassler meninggal pada tahun 1978, tetapi warisannya hidup melalui Adidas. Perusahaan terus berinovasi, dari teknologi Boost pada sepatu lari hingga kolaborasi dengan desainer seperti Stella McCartney dan artis seperti Kanye West. 

Saat ini, Adidas adalah bagian dari budaya global, dari lapangan sepak bola hingga runway fashion.

Dari ruang cuci sederhana hingga stadion Olimpiade, perjalanan Adidas adalah bukti kekuatan visi dan ketekunan. Logo Trefoil, yang lahir pada 1971, tetap menjadi pengingat akan akar atletik sambil merangkul masa depan. Dalam dunia yang terus berubah, Adidas mengajarkan bahwa inovasi sejati dimulai dari komitmen terhadap kualitas dan performa.

Dengarkan
Pilih Suara
1x
* Mengubah pengaturan akan membuat artikel dibacakan ulang dari awal.
Posting Komentar